Ramuan si Dukun

Entah bagaimana aku mendeskripsikan racikan yang disuguhi oleh sang dukun tanpa mengurangi segala kasiat yang diberikan oleh tiap kandungan didalamnya. Entah berapa kali pula aku menengguk racikan itu sepanjang masa hidupku ini. Entah sadar atau tidak, racikan itu menjelma menjadi darah yang mengalir agar tercipta keseimbangan untuk tubuhku.

Perpaduan alat-alat kramat itu menjadi bagian penting dalam proses penciptaan ramuan sang dukun. Bahkan bunyi gentong yang hanya dipukul sebelah kiri dan kanan dengan variasi yang diperagakan begitu merasuk terjal ke lubuk nurani. Bunyi yang diciptakan oleh tiap alat itu memiliki peran dan watak mereka masing-masing. Semuanya tergantung bagaimana sang peramu menginginkannya. Tapi kembali lagi, reaksi tubuh terhadap sebuah ramuan tentunya akan berbeda. Masing-masing punya respon dan dampak yang berbeda.

Belum lagi mantra yang dilantutkan si dukun. Banyak ucapan yang kupahami namun terkadang tak ku mengerti apa makna dibalik kumpulan kata, frasa dan kalimat tersebut. Tidak sedikit pula kata-kata yang aku tak tau sama sekali apa artinya. Tapi entah kenapa, lantunan nada si dukun membuatku tertegun. “Sungguh maha Agung  dukun sialan ini” ucapku dalam hati. Tapi yang Agung hanya Sang Gusti! Mana boleh dia melewati batas keAgungan-Nya! Atau mungkin si dukun dijatuhi mukjizat oleh yang Maha? Dan kebetulan saja aku beruntung dapat menikmati mukjizat itu. Sialan juga dukun ini.

Sungguh nikmat hidup dalam candu ramuan sang dukun. Tidak ada pakem yang mesti kutaati dalam menikmati racikannya. Aku hari ini bisa saja datang ke rumah Mbah Djamad untuk minta ramuan andalannya yang terkenal membuat badan begitu sejuk. Dan Esok mampir ke kedai Mbah Abang yang menyediakan racikan legendaris warisan almarhum ayahnya.  Aku juga tak perlu takut akan digrebek densus 88. Toh yang diracik ini obat bukan bom! Dulu memang sempat dibatasi. Hanya dukun-dukun tertentu saja yang boleh menjual ramuan mereka untuk masyarakat. Tapi ini era modern. Siapa saja boleh membuat ramuan. Tidak diperjual belikan juga tidak masalah. Yang penting dia senang sudah berhasil meracik sebuah ramuan.

Dukun-dukun tetua yang menyuguhi ramuan tokcer mulai diawasi oleh orang-orang besar. Entah apa yang mereka maksud dengan membahayakan masyarakat. Padahal justru bisa mencelakakan para penikmat ramuan mereka. Apalagi untuk kemaslahatan si dukun-dukun nekat itu. Semoga zaman tidak terulang dimana dukun tidak boleh sembarang eracik dan menjual ramuan mereka.






Sumber gambar:
ngelmu(dot)id



Komentar

Postingan Populer